DO THE BEST & BE THE BEST WITH LILIANA!

Mutiara Inspirasi... adalah sarana berbagi untuk hidup yang lebih bermakna... berbahagia karena selalu memiliki prinsip "Lakukan yang Terbaik!" maka yang terbaik akan datang satu saat kepada Anda. Jadi jangan tunda-tunda lagi...jadikan hidup ini berarti...hari esok kita tidak pernah tahu apakah kita akan mencapainya... hari kemarin sudah berlalu dan tak akan pernah kembali... hari ini adalah anugrah yang terindah... Salam Love & Wisdom, LILIANA WAHYUDI

Senin, 22 Juni 2009

Indeks Pendidikan Indonesia Menurun

INDEKS PENDIDIKAN INDONESIA MENURUN

DAN PROFESIONALISME GURU

Oleh LILIANA

Membaca artikel Humaniora – Didaktika Kompas (Senin, 31 Desember 2007) tentang Indeks Pendidikan Indonesia Menurun, menjadi tepat untuk refleksi akhir tahun dan resolusi tahun 2008. Ada hal miris ketika membaca bahwa peringkat Indonesia turun dari posisi 58 menjadi 62, sementara Malaysia justru naik peringkat dari 62 menjadi 56, dan hanya butuh 0,005 poin untuk masuk ke kelompok indeks pendidikan tinggi. Sementara Indonesia masih perlu tiga kali lipatnya. Perlu Usaha yang luar biasa!!!

Satu bulan yang lalu saya diminta rekan dari sebuah yayasan untuk membawakan lokakarya Profesionalisme Guru untuk guru-guru SD di salah satu wilayah Jakarta. Saya mengatakan bahwa seorang guru yang profesional harus bisa mengembangkan peserta didiknya bukan hanya dari segi kecerdasan intelektual (IQ) saja tetapi juga EQ (Emotional Quality), SQ (Spiritual Quality), dan AQ (Adversity Quality). Ternyata istilah EQ, SQ, dan AQ masih merupakan hal baru bagi mereka. Ini patut disayangkan karena sebagai pendidik generasi bangsa sudah seharusnya mampu mengaplikasikan teori tersebut agar para peserta didiknya berkembang secara optimal.

Dalam kesempatan itu pula, banyak pertanyaan yang dilontarkan para guru tentang kenakalan yang ditanggapi secara negatif oleh para guru sehingga mereka menggunakan cara represif untuk menekan para murid yang dianggap “trouble maker”. Padahal saya bisa mengendalikan kenakalan murid-murid saya dengan sikap yang demokratis tanpa stres dan tindakan represif dengan hasil pencapaian target kurikulum lebih dari 85%, luar biasa bukan? Guru dan murid sama-sama senang, situasi belajar pun menjadi lebih menyenangkan bahkan bisa memunculkan bakat-bakat istimewa murid-murid yang nota bene beberapa di antaranya pada awalnya adalah “si pembuat onar” tadi menjadi pengharum nama sekolah di event-event khusus kedaerahan dan skala nasional.

Dalam proses pendidikan, para guru lebih banyak menggunakan cara-cara konvensional, penggunaan alat peraga masih sangat jarang dengan alasan keterbatasan dana dan waktu. Padahal alat peraga dengan mudah diperoleh melalui sarana internet. Ironisnya, banyak dari para guru tersebut yang belum pernah tahu cara mengakses internet. Keberadaan akses internet yang diharapkan bisa masuk ke pelosok negeri ini seakan menjadi angan-angan kosong karena banyak guru di Jakarta saja masih belum ‘melek’ internet.

Guru di Indonesia seharusnya bangga karena ada lagu hymne guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa akhirnya menjadikan mereka penjual jasa apa saja karena honor yang diperoleh tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok mereka dan keluarga. Ada yang menjadi tukang ojek, tukang becak, pemulung, dan sebagainya. Alangkah baiknya bila para guru dapat mencari sambilan yang dapat meningkatkan profesionalismenya misalnya dengan menjadi guru privat, penulis karya ilmiah, pelukis, dsb. Dan satu hal yang perlu dimiliki oleh para guru adalah sikap mental positif dalam menyikapi situasi dan kondisi kehidupan yang berat agar bisa menciptakan suasana yang kondusif pada para peserta didiknya. Alih-alih suasana kondusif, beberapa guru yang level stres nya tinggi malah membuat para murid menjadi stres dan kian tidak nyaman belajar.

Di akhir lokakarya tersebut, para guru menyampaikan kesan-kesan bahwa lokakarya ini sangat menarik dibandingkan lokakarya atau penataran yang biasa mereka ikuti karena metoda experiential learning dengan cara belajar aktif, melakukan analisa, diskusi, dan ilustrasi melalui permainan dan cerita sehingga belajar menjadi terasa menyenangkan walaupun setengah hari sebelumnya mereka sudah lelah bekerja.

Indonesia seharusnya bisa memiliki guru-guru yang bukan hanya menjadikan guru sebagai pekerjaan untuk memperoleh nafkah tetapi menjadikan guru sebagai profesi dan panggilan hidup yang mulia. Pengembangan potensi guru bisa dilakukan melalui kegiatan pendidikan formal maupun non-formal dengan lokakarya-lokakarya yang “kelas dunia” bukan hanya asal mengumpulkan poin untuk prasyarat kenaikan pangkat/golongannya. Rekrutmen guru perlu lebih komprehensif dengan melihat bukan hanya pada kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosi, spiritual, dan bisa bersikap kreatif serta tangguh menghadapi situasi kehidupan yang semakin berat. Sistem remunerasi menjadi PR besar Pemerintah dan Swasta untuk menciptakan suasana kondusif bagi para guru agar dapat bekerja dengan konsentrasi penuh untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sehingga kualitas SDM Indonesia tidak lagi kalah dari negara-negara dunia ketiga bahkan seharusnya bisa setara dengan dunia maju. Tokh secara perorangan, Indonesia sudah berkiprah di dunia internasional dengan menjadi Juara Olimpiade Fisika, Matematika, dsb. Kalau orang lain bisa, mengapa kita harus tidak bisa. Majulah Indonesiaku.

Penulis adalah Mantan Guru SD yang sekarang menjadi Konsultan SDM

Dan assosiate di beberapa Institusi Pengembangan Diri dan Pelatihan Motivasi.

LILIANA WAHYUDI

LILIANA  WAHYUDI
Trainer, Public Speaker & Motivator

BREAK YOUR LIMIT!

Lepaskan segala keraguan Anda...
Hadapi tantangan dengan berani
untuk menghalau keterbatasan
menghalau status quo

Hidup akan jauh lebih baik dan bermakna
ketika Anda berani mengalahkan musuh terbesar yaitu...
diri kita sendiri.