INDEKS PENDIDIKAN
DAN PROFESIONALISME GURU
Oleh LILIANA
Membaca artikel Humaniora – Didaktika Kompas (Senin, 31 Desember 2007) tentang Indeks Pendidikan Indonesia Menurun, menjadi tepat untuk refleksi akhir tahun dan resolusi tahun 2008. Ada hal miris ketika membaca bahwa peringkat Indonesia turun dari posisi 58 menjadi 62, sementara Malaysia justru naik peringkat dari 62 menjadi 56, dan hanya butuh 0,005 poin untuk masuk ke kelompok indeks pendidikan tinggi. Sementara
Satu bulan yang lalu saya diminta rekan dari sebuah yayasan untuk membawakan lokakarya Profesionalisme Guru untuk guru-guru SD di salah satu wilayah
Dalam kesempatan itu pula, banyak pertanyaan yang dilontarkan para guru tentang kenakalan yang ditanggapi secara negatif oleh para guru sehingga mereka menggunakan cara represif untuk menekan para murid yang dianggap “trouble maker”. Padahal saya bisa mengendalikan kenakalan murid-murid saya dengan sikap yang demokratis tanpa stres dan tindakan represif dengan hasil pencapaian target kurikulum lebih dari 85%, luar biasa bukan? Guru dan murid sama-sama senang, situasi belajar pun menjadi lebih menyenangkan bahkan bisa memunculkan bakat-bakat istimewa murid-murid yang nota bene beberapa di antaranya pada awalnya adalah “si pembuat onar” tadi menjadi pengharum nama sekolah di event-event khusus kedaerahan dan skala nasional.
Dalam proses pendidikan, para guru lebih banyak menggunakan cara-cara konvensional, penggunaan alat peraga masih sangat jarang dengan alasan keterbatasan dana dan waktu. Padahal alat peraga dengan mudah diperoleh melalui sarana internet. Ironisnya, banyak dari para guru tersebut yang belum pernah tahu cara mengakses internet. Keberadaan akses internet yang diharapkan bisa masuk ke pelosok negeri ini seakan menjadi angan-angan kosong karena banyak guru di Jakarta saja masih belum ‘melek’ internet.
Guru di Indonesia seharusnya bangga karena ada lagu hymne guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa akhirnya menjadikan mereka penjual jasa apa saja karena honor yang diperoleh tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok mereka dan keluarga.
Di akhir lokakarya tersebut, para guru menyampaikan kesan-kesan bahwa lokakarya ini sangat menarik dibandingkan lokakarya atau penataran yang biasa mereka ikuti karena metoda experiential learning dengan cara belajar aktif, melakukan analisa, diskusi, dan ilustrasi melalui permainan dan cerita sehingga belajar menjadi terasa menyenangkan walaupun setengah hari sebelumnya mereka sudah lelah bekerja.
Penulis adalah Mantan Guru SD yang sekarang menjadi Konsultan SDM
Dan assosiate di beberapa Institusi Pengembangan Diri dan Pelatihan Motivasi.
