DO THE BEST & BE THE BEST WITH LILIANA!

Mutiara Inspirasi... adalah sarana berbagi untuk hidup yang lebih bermakna... berbahagia karena selalu memiliki prinsip "Lakukan yang Terbaik!" maka yang terbaik akan datang satu saat kepada Anda. Jadi jangan tunda-tunda lagi...jadikan hidup ini berarti...hari esok kita tidak pernah tahu apakah kita akan mencapainya... hari kemarin sudah berlalu dan tak akan pernah kembali... hari ini adalah anugrah yang terindah... Salam Love & Wisdom, LILIANA WAHYUDI

Senin, 08 Februari 2010

Refleksi Diri - Bersihkan Diri Kita

Siang ini kesempatan di rumah saya manfaatkan untuk membersihkan kompor 4 tungku saya. Berbeda dengan kompor biasa yang lebih mudah perawatannya karena partnya pun sangat sederhana, karena kompor modern ini penampangnya dari kaca jelas perlu ekstra hati-hati membersihkannya supaya tidak terkena scratch atau goresan yang pasti akan membuatnya menjadi kurang indah. Agak rumit dan saya perlu membuka tungku itu menggunakan obeng... dengan susah payahnya akhirnya dpt juga dibuka dan... waow.... bagian dalamnya terlihat ada kerak hitam hasil masak saya yg mengikuti koki chinese food yang suka mengangkat api supaya naik ke masakan sehingga menimbulkan aroma khas... (hm, walau katanya kurang sehat ya...tp enak sih ha...ha... utk memanjakan lidah). Kembali ke urusan bersih-bersih tadi... saya perhatikan banyak kerak-kerak yang menempel sehingga menggunakan spon biasa tak sanggup mengangkat nodanya... akhirnya saya menggunakan sabut kasar untuk menggosok bagian yang kotor itu dan tetap harus ekstra hati-hati karena ada kabel halus penghubung dengan aliran listrik. Di bagian tengahnya kerak kental agak sulit sehingga harus saya kerik untuk membersihkannya... sekilas krn sudah cukup lama bertengger di situ (lebih kurang setahun sudah tidak bongkar bagian dalam) kerak tersebut terlihat sudah menyatu dengan logam-logam yang menjadi part itu...sehingga memisahkannya perlu tenaga ekstra... bantuan semprotan zat kimia... sikat gigi, dan peralatan lainnya. Nah...sambil membersihkan kompor modern ini...tiba-tiba saja pikiran saya menerawang....

Begitulah dengan kehidupan manusia modern sekarang ini, terlalu rumit termasuk dalam membersihkan diri... dalam hal ini hati yang letaknya di dalam. Mungkin di luar terkesan bersih, indah... tapi siapa tahu bagian dalamnya? Sangat mungkin banyak kerak-kerak dan kotoran yang menempel sehingga sudah menyatu dengan organ tubuh kita dan aliran darah kita. Untuk membersihkannya pun perlu daya upaya yang besar... melepaskan noda kebencian, iri hati, kemarahan, kekecewaan, sikap berpura-pura atau kamuflase yang merusak integritas kita... dan banyak emosi negatif lain seperti dendam... sikap fatalisme atau menyerah pada keadaan... Kita memerlukan zat kimia yang bernama serotonin untuk menyemprot kotoran-kotoran itu agar luruh, kadang kala kita perlu sikat gigi yang bernama kerelaan memaafkan yang sering kali orang merasa sulit melakukannya - ternyata itu bermanfaat bagi organ tubuh dan aliran darah yang lebih baik dan sehat... kadang kala kita perlu juga alat lainnya yang bernama empati... dan rasa kasih sehingga kita bisa membersihkan noda-noda dan sampah kehidupan kita. Setelah itu kita harus membalancing antara bagian luar dan bagian dalam seperti halnya kompor modern itu... kehidupan modern kita yang sering kali tidak balancing antara tubuh, jiwa, dan roh... antara kehidupan konsumtif dengan kehidupan melayani... bukan hanya ingin dilayani tetapi juga melayani... bukan hanya kegiatan kerja...kerja...dan kerja... tanpa ingat kegiatan berbagi kasih, memberi waktu kita...bagi orang tua, pasangan hidup, anak-anak kita...dan juga sahabat-sahabat kita.
Ya... jika kita terjebak dalam kerak yang menyatu seperti halnya habit kita.... akhirnya kita merasa yang salah atau melanggar norma itu sudah tidak salah lagi... seperti halnya orang-orang yang berbisnis barang haram atau yang biasa melakukan perbuatan melanggar norma.. ; karena sudah terbiasa dengan habit negatif akhirnya....
yang benar menjadi terasa tak lazim dan hal luar biasa pun menjadi terkesan biasa saja... semua terasa hambar... akh...kehidupan modern inilah yang terjadi sekarang ini, sudah hilang keindahannya...digantikan oleh maraknya kehidupan duniawi yang penuh kepalsuan ...jadi harus disemprotkan lagi dengan cairan kasih mula-mula... agar kita bisa tersenyum lebar bahkan tertawa lepas ketika ada orang yang mencoba menyegarkan suasana dengan mengeluarkan canda ceria, tertawa lepas ketika melihat tingkah anak-anak yang polos dan lugu...dan banyak lagi.

Belajar dari membersihkan kompor ini... membuat saya sadar bahwa saya pun harus membersihkan diri... siapa tahu masih ada noda-noda lama yang menempel... sehingga saya melakukan proses hening sesaat untuk meminta tangan Tuhan membersihkannya supaya dosa kita dibersihkan bak salju putih bersih, ...dan saya lalu menuangkannya untuk Anda semua. Anda yang sehat walafiat mau membersihkan diri dengan harapan hidup kita dan tubuh kita tetap terjaga kesehatannya, Anda yang terkena kanker ( ini terjadi pada beberapa friends di facebook saya ini) atau penyakit lainnya mari... bersihkan kerak dalam bentuk jaringan liar itu dengan kesediaan membalancing mind-body-soul, perbanyak energi positif agar produksi serotonin kita bertambah dan bisa menjadi serum yang bermanfaat buat tubuh kita - dan ini yang perlu dilakukan karena beberapa teman saya akhirnya bisa sembuh dari kanker ganas ketika mencoba melakukan "inner healing"...so tunggu apa lagi?

Salam Prima,

LILIANA
Soft Skills Trainer

Jumat, 23 Oktober 2009

Negosiasi Efektif

NEGOSIASI YANG EFEKTIF DI DUNIA KERJA

Dalam kehidupan, negosiasi menjadi sesuatu yang sebetulnya biasa dilakukan. Mulai ketika Anda bangun pagi ketika Anda dihadapkan pada pilihan mandi dulu atau baca koran dulu, ketika Anda sudah memilih untuk mandi dulu ternyata pada waktu yang hampir bersamaan salah satu orang di rumah Anda atau di tempat kos Anda juga akan memakai kamar mandi sehingga terjadi negosiasi pula tentang siapa yang akan duluan menggunakan kamar mandi. Dalam konteks kerja, negosiasi bisa mencakup bagaimana mendapatkan harga terbaik dari procurement, bagaimana mencapai kata sepakat dengan atasan Anda mengenai berbagai masalah dan prioritas kerja yang saling bertentangan, bahkan termasuk bagaimana Anda bisa menegosiasikan dengan atasan Anda tentang dateline suatu pekerjaan.

Seorang teman kuliah saya di pasca sarjana yang kebetulan bekerja di suatu bank plat merah sangat sering terlambat dan absen. Padahal kantor tempatnya bekerja persis di seberang kampus kami. Dia beberapa kali diultimatum dosen karena terlalu seringnya terlambat bahkan kehadirannya yang kurang dari standar yang ditetapkan untuk bisa mengikuti ujian. Ternyata teman saya ini mempunyai problem bahwa atasannya sering memberikan tugas menjelang pulang kantor yang mau tidak mau harus dikerjakannya sehingga hal lain termasuk masuk kuliah menjadi korban. Saya teringat ketika semasa saya bekerja sebagai staf HRD di salah satu bank swasta, saya mempunyai atasan yang acap kali memberikan tugas di sore hari menjelang berakhirnya jam kerja. Hal ini dikarenakan yang bersangkutan termasuk work-aholic yang bisa betah di kantor sampai jam 9 malam, sehingga sopir GM saya ini memecahkan rekor untuk lembur terbanyak setiap bulannya dibandingkan karyawan lainnya. Setelah saya mempelajari kebiasaan atasan ini, akhirnya saya merasa perlu menegosiasikan tentang tugas yang diberikannya tersebut dan datelinenya. Bahkan saking proaktifnya saya setelah tahu habit dari atasan saya tersebut, biasanya sekitar pukul setengah empat saya datang ke atasan saya untuk menyampaikan progress report tugas saya sambil saya tanyakan adakah tugas yang harus dikerjakan hari itu juga. Mengapa saya lakukan itu ya… supaya saya bisa pulang cepat karena saya ada kesibukan lain di luar jam kerja saya. Dan saya bersyukur pada akhirnya atasan saya memahami dan jarang memberikan tugas dadakan menjelang jam kerja berakhir sehingga saya bisa balancing hidup saya bukan untuk kerja saja tetapi juga bisa untuk ke gym, kursus bahasa Inggris, atau kegiatan lainnya. Namun sering kali banyak orang merasa sulit untuk menegosiasi hal seperti itu karena berbagai alasan di antaranya adalah :

· “Rasanya sulit bagi saya untuk bisa menegosiasikan tugas kerjaan dengan atasan saya,”

· “Atasan saya hanya memikirkan keinginan dan kehendaknya sendiri – sehingga saya sebagai bawahan harus berkorban. – saya gak yakin atasan saya bisa mengerti tentang kuliah saya karena dia Cuma S-1,”

· dan berbagai alasan lainnya yang sering kali hanya asumsi yang belum tentu kebenarannya.

Berikut ini saya akan menyampaikan beberapa tips untuk memudahkan Anda bernegosiasi.

1. Jangan menegosiasikan sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan. Artinya bila itu berhubungan dengan peraturan perusahaan, Standar SOP, maka itu sudah tidak perlu ditawar atau dinegosiasikan lagi. Tetapi tentang dateline pekerjaan seperti teman saya ini sebenarnya masih bisa dinegosiasikan karena kalau pun tidak dikerjakan sore itu juga tidak akan mengganggu operasional kerja jadi masih memungkinkan untuk dibicarakan sehingga dia bisa tetap kuliah dengan lancar. Teman saya ini sudah memasuki semester keenam (padahal kuliah pasca sarjana hanya 4 semester saja –pen) hanya karena dia tidak diizinkan ujian akibat sering bolosnya sehingga tidak memenuhi kuota kehadiran yang telah ditetapkan pihak kampus. Teman saya sebenarnya bisa melakukan negosiasi juga dengan dosen supaya diperkenankan untuk mendapat tugas mandiri sebagai kompensasi ketidakhadirannya (yang kurang dari 75% SOP Kampus) sehingga dia bisa layak mengikuti ujian dan kuliahnya cepat selesai sehingga bisa fokus pada pekerjaannya secara penuh.

2. Bersikaplah asertif – sering kali orang menghindari bernegosiasi karena ketidakmampuannya bersikap asertif. Bersikap asertif berarti Anda memiliki kepercayaan diri dan keberanian untuk menyuarakan kepentingan Anda tanpa merugikan kepentingan orang lain. Kebanyakan bawahan tidak mampu bersikap asertif sehingga menjadi pasif dan submisif ini terbukti dengan idiom “ABS = Asal Bapak Senang” atau “AIS” = Asal Ibu Senang (sekarang yang jadi atasan kan tidak selalu pria tokh). Kebalikan dari pasif dan submisif adalah agresif yang akhirnya bisa membahayakan hubungan kerja karena merasa ada pihak yang dirugikan. Jadi dalam konteks negosiasi yang berhasil adalah bila Anda bisa tahu kepentingan para pihak dan bisa bertukar konsesi untuk menemukan BATNA (Best Alternative To a Negotiated Agreement). Saya sudah melakukannya dan berhasil, ketika kita bersikap asertif, atasan saya menyadari bahwa sebagai individu saya juga punya hak dan kepentingan di luar jam kerja sehingga tidak selayaknya dia mengganggu jatah jam kehidupan saya setelah 8 jam kerja di kantor – namun dalam hal ini saya pun sesekali siap lembur bila memang ada tugas penting yang harus dikerjakan dan itu sesuai kesepakatan bersama. Misalnya setiap seminggu sekali saya harus siap lembur menemani atasan saya berdiskusi dan melakukan evaluasi dengan para Management Trainee (MT) selepas jam kantor.

3. Pisahkan orang dari masalahnya. Belajarlah memisahkan pribadi mitra negosiasi Anda dari topik permasalahan yang sedang dinegosiasikan supaya Anda bisa menentukan BATNA Anda. Katakanlah Anda harus melakukan negosiasi pembelian suatu alat yang kebetulan salesnya adalah teman dekat atau kerabat Anda sendiri. Pisahkan perasaan pribadi sebagai kerabat atau teman tersebut supaya Anda bisa menentukan BATNA Anda secara leluasa untuk keberhasilan negosiasi Anda yang akan menjadi prestasi Anda pula akhirnya bila Anda dapat memperoleh harga terbaik yang pernah ada dengan kualitas terbaik pula.

4. Kenali mitra negosiasi Anda, semakin baik Anda mengenal mitra negosiasi Anda akan semakin kuat posisi Anda dan BATNA Anda akan semakin baik. Bila Anda bertemu dengan mitra yang visual – berusahalah untuk menjadi lebih visual dengan menunjukkan antusiasme ketika berbicara, penampilan yang rapi, alat bantu visual, sementara bila Anda bertemu dengan orang yang auditory, aturlah intonasi bicara Anda agar lebih berirama dan pas didengarnya, jelaskan detil penawaran Anda, dan dengarkan apa yang disampaikan dengan seksama. Sebaliknya bila Anda bertemu dengan orang yang cenderung kinestetis, jangan terburu-buru ketika Anda menyampaikan penawaran Anda, lebih sabarlah mendengarkan karena mitra Anda yang cenderung ‘perasa’ ini harus lebih diperlakukan penuh perasaan. Ketika Anda cenderung memaksa justru orang tipe ini akan merasa tidak nyaman dan itu bisa membuat kesepakatan tidak terjadi.

5. Kendalikan emosi Anda supaya negosiasi berlangsung efektif. Jika pada waktu yang telah ditetapkan ternyata kesibukan Anda sangat luar biasa, meeting mendadak, atau ada masalah genting maka kabari mitra negosiasi Anda, sampaikan maaf karena harus menjadwal ulang pertemuan daripada Anda memaksakan tetap bertemu sementara suasana hati dan emosi Anda sedang panik, labil, atau bahkan sedang marah. Bila mitra negosiasi Anda sedang marah dengan berteriak atau bahkan menggebrak meja, biarkan sampai tenang kembali, tetaplah tenang, dan itu bisa membuat posisi Anda menjadi lebih baik. Jika emosi Anda dan mitra Anda meninggi jangan paksakan tercapai satu kesepakatan saat itu juga, lebih baik tunda sampai pertemuan berikutnya. Akan jauh lebih baik pertemuan selanjutnya dilakukan saat pagi hari sehingga lebih tenang dan nyaman.

6. Ciptakan situasi menang-menang. Sekalipun tidak selalu memungkinkan, Anda harus mengupayakannya. Karena dengan keadaan seimbang akan membuat hubungan jangka panjang terjaga. Sebuah ilustrasi tentang kakak beradik yang memperebutkan jeruk madiun menjadi tepat dalam konteks ini. Sering kali ketika kita melihat perseteruan seperti ini kita menganggap yang adil adalah membagi dua buah jeruk itu dan masalah selesai, ternyata sang kakak membutuhkan buah jeruk itu untuk dibuat asinan sedangkan adiknya membutuhkan kulit jeruk itu untuk dibuat mobil-mobilan. Jadi kenali kepentingan dan kebutuhannya, itulah win-win solution. Dengan bertanya apa yang menjadi kebutuhannya maka si kakak puas mendapat buah jeruk yang banyak untuk asinan yang segar dan si adik mendapatkan kulit buah yang lengkap untuk dia bisa membuat mobil-mobilan secara lengkap.

7. Negosiasi akan berlangsung efektif jika Anda terampil mendengarkan. Kemampuan mendengarkan berbeda dengan mendengar. Mendengarkan membutuhkan perhatian penuh, hati dan pikiran Anda tercurah pada pembicaraan mitra negosiasi Anda, telinga dan mata Anda pun fokus sehingga Anda bisa memahami sudut pembicaraan mitra negosiasi Anda dan dengan demikian membuat Anda bisa menentukan posisi terbaik untuk win-win solution.

Demikian tips untuk melakukan negosiasi yang efektif di dunia kerja, selamat mempraktekkan.

LILIANA W. WAHYUDI

Senin, 22 Juni 2009

Indeks Pendidikan Indonesia Menurun

INDEKS PENDIDIKAN INDONESIA MENURUN

DAN PROFESIONALISME GURU

Oleh LILIANA

Membaca artikel Humaniora – Didaktika Kompas (Senin, 31 Desember 2007) tentang Indeks Pendidikan Indonesia Menurun, menjadi tepat untuk refleksi akhir tahun dan resolusi tahun 2008. Ada hal miris ketika membaca bahwa peringkat Indonesia turun dari posisi 58 menjadi 62, sementara Malaysia justru naik peringkat dari 62 menjadi 56, dan hanya butuh 0,005 poin untuk masuk ke kelompok indeks pendidikan tinggi. Sementara Indonesia masih perlu tiga kali lipatnya. Perlu Usaha yang luar biasa!!!

Satu bulan yang lalu saya diminta rekan dari sebuah yayasan untuk membawakan lokakarya Profesionalisme Guru untuk guru-guru SD di salah satu wilayah Jakarta. Saya mengatakan bahwa seorang guru yang profesional harus bisa mengembangkan peserta didiknya bukan hanya dari segi kecerdasan intelektual (IQ) saja tetapi juga EQ (Emotional Quality), SQ (Spiritual Quality), dan AQ (Adversity Quality). Ternyata istilah EQ, SQ, dan AQ masih merupakan hal baru bagi mereka. Ini patut disayangkan karena sebagai pendidik generasi bangsa sudah seharusnya mampu mengaplikasikan teori tersebut agar para peserta didiknya berkembang secara optimal.

Dalam kesempatan itu pula, banyak pertanyaan yang dilontarkan para guru tentang kenakalan yang ditanggapi secara negatif oleh para guru sehingga mereka menggunakan cara represif untuk menekan para murid yang dianggap “trouble maker”. Padahal saya bisa mengendalikan kenakalan murid-murid saya dengan sikap yang demokratis tanpa stres dan tindakan represif dengan hasil pencapaian target kurikulum lebih dari 85%, luar biasa bukan? Guru dan murid sama-sama senang, situasi belajar pun menjadi lebih menyenangkan bahkan bisa memunculkan bakat-bakat istimewa murid-murid yang nota bene beberapa di antaranya pada awalnya adalah “si pembuat onar” tadi menjadi pengharum nama sekolah di event-event khusus kedaerahan dan skala nasional.

Dalam proses pendidikan, para guru lebih banyak menggunakan cara-cara konvensional, penggunaan alat peraga masih sangat jarang dengan alasan keterbatasan dana dan waktu. Padahal alat peraga dengan mudah diperoleh melalui sarana internet. Ironisnya, banyak dari para guru tersebut yang belum pernah tahu cara mengakses internet. Keberadaan akses internet yang diharapkan bisa masuk ke pelosok negeri ini seakan menjadi angan-angan kosong karena banyak guru di Jakarta saja masih belum ‘melek’ internet.

Guru di Indonesia seharusnya bangga karena ada lagu hymne guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa akhirnya menjadikan mereka penjual jasa apa saja karena honor yang diperoleh tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok mereka dan keluarga. Ada yang menjadi tukang ojek, tukang becak, pemulung, dan sebagainya. Alangkah baiknya bila para guru dapat mencari sambilan yang dapat meningkatkan profesionalismenya misalnya dengan menjadi guru privat, penulis karya ilmiah, pelukis, dsb. Dan satu hal yang perlu dimiliki oleh para guru adalah sikap mental positif dalam menyikapi situasi dan kondisi kehidupan yang berat agar bisa menciptakan suasana yang kondusif pada para peserta didiknya. Alih-alih suasana kondusif, beberapa guru yang level stres nya tinggi malah membuat para murid menjadi stres dan kian tidak nyaman belajar.

Di akhir lokakarya tersebut, para guru menyampaikan kesan-kesan bahwa lokakarya ini sangat menarik dibandingkan lokakarya atau penataran yang biasa mereka ikuti karena metoda experiential learning dengan cara belajar aktif, melakukan analisa, diskusi, dan ilustrasi melalui permainan dan cerita sehingga belajar menjadi terasa menyenangkan walaupun setengah hari sebelumnya mereka sudah lelah bekerja.

Indonesia seharusnya bisa memiliki guru-guru yang bukan hanya menjadikan guru sebagai pekerjaan untuk memperoleh nafkah tetapi menjadikan guru sebagai profesi dan panggilan hidup yang mulia. Pengembangan potensi guru bisa dilakukan melalui kegiatan pendidikan formal maupun non-formal dengan lokakarya-lokakarya yang “kelas dunia” bukan hanya asal mengumpulkan poin untuk prasyarat kenaikan pangkat/golongannya. Rekrutmen guru perlu lebih komprehensif dengan melihat bukan hanya pada kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosi, spiritual, dan bisa bersikap kreatif serta tangguh menghadapi situasi kehidupan yang semakin berat. Sistem remunerasi menjadi PR besar Pemerintah dan Swasta untuk menciptakan suasana kondusif bagi para guru agar dapat bekerja dengan konsentrasi penuh untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sehingga kualitas SDM Indonesia tidak lagi kalah dari negara-negara dunia ketiga bahkan seharusnya bisa setara dengan dunia maju. Tokh secara perorangan, Indonesia sudah berkiprah di dunia internasional dengan menjadi Juara Olimpiade Fisika, Matematika, dsb. Kalau orang lain bisa, mengapa kita harus tidak bisa. Majulah Indonesiaku.

Penulis adalah Mantan Guru SD yang sekarang menjadi Konsultan SDM

Dan assosiate di beberapa Institusi Pengembangan Diri dan Pelatihan Motivasi.

Minggu, 07 Juni 2009

NLP apa bukan... yang penting Manfaat

"Ibu Lili ini NLP-er banget!" kata seorang teman, sahabat, dan 'adik' saya dalam kali kesempatan ketika kami habis memberikan pelatihan untuk sebuah perusahaan advertising global. Saya tersenyum simpul karena saya memang tidak memegang sertifikasi NLP dari lembaga mana pun.
"Saya banyak belajar dari Bu Lilik..." dan saya sangat respek karena yang mengucapkan ini adalah seseorang yang sudah pegang sertifikat dan licensed dari Richard Bandler namun memiliki kerendahan hati yang luar biasa. sementara terkadang ada orang yang terlalu membanggakan dirinya dengan selembar kertas sertifikasi dan memandang 'enteng' pada orang yang tidak memegang selembar kertas licenced, atau sertifikat.

NLP atau bukan - yang jelas saya sudah mempraktekkan memprogram pikiran bawah sadar saya sejak saya di bangku SLTA, di mana saat itu saya amat sering sakit kepala (atau istilah kerennya sekarang vertigo) yang lalu membuat saya memutuskan untuk pergi memeriksakan ke dokter ahli tanpa seorang pun keluarga saya yang tahu. Mengapa? Karena saya punya prinsip tidak mau merepotkan orang termasuk keluarga saya - apa yang bisa saya lakukan sendiri akan saya lakukan sendiri, apalagi saat itu saya sudah punya penghasilan sendiri sehingga membiayai sekolah secara mandiri. Ketika melalui pemeriksaan EEG dan saya divonis "sehat" maka di situlah awal kebangkitan saya. Dokter yang sudah sepuh bertanya "Kamu mikir apa sih? pasti kamu susah tidur karena stress" dan dokter memberikan saya sejenis obat penenang untuk membantu saya tidur. Saya tidak beli obat itu tetapi saya selalu mengatakan pada diri saya "Aku sehat! terus berulang-ulang... dan puji Tuhan sakit kepala saya hilang... Rasa stress tetap ada seperti Mc. Clelland katakan orang yang N' ach nya tinggi biasanya mempunyai tingkat stress yang cukup tinggi... namun karena sugesti yang positif yang terus saya katakan saya menjadi lebih punya daya tahan terhadap stres dan saya bisa lulus SLTA dengan penghargaan "Predikat Lulusan Terbaik!!" demikian pula ketika saya lulus S-1, nama saya terpampang di surat kabar sebagai lulusan terbaik. Namun jangan jadikan itu sebagai kebanggaan yang berlebihan... dan membuat kita menjadi sombong. Saya tidak mau menjadi orang yang pintar tetapi kesepian karena tidak punya banyak teman yang mau dekat seperti yang banyak saya jumpai!!! Belajar dari banyak hal dalam kehidupan ini membuat saya commit pada diri saya bahwa saya mau lebih banyak perkatakan hal yang positif... memberi manfaat bagi banyak orang untuk bisa menjalani hidup yang berkualitas dan bermakna... dan itu yang saya lakukan hingga sekarang.

Saya kenal NLP tahun 1995 karena sebagai orang yang bekerja di bidang training harus melakukan survey terlebih dahulu apakah institusi ini membawakan topik yang menarik dan bermanfaat atau tidak. Kalau bermanfaat ya ... saya undang untuk bisa memberikan penawaran in-house training or mengikutsertakan karyawan ke pelatihan public-nya. Apakah selalu begitu? Tidak! Saya pernah mencoret satu lembaga pelatihan yang sudah punya nama hanya karena pengajarnya terlalu teoritis dan tidak menarik sehingga membuat peserta (wkt itu di level Branch Manager) bosan bahkan ada yang sampai tertidur pulas.... sementara si pengajar tetap asyik melanjutkan materinya (mungkin dalam pikirannya EGP - yang penting materi saya selesai sampai waktunya habis... ya pulang!" Itu adalah pengalaman berharga bagi saya... sehingga saya yang punya dream untuk jadi pembicara sukses saat tahun 1995 itu.. menanamkan satu sugesti kalau saya jadi pembicara/pengajar saya tidak boleh melakukan hal yang sama... saya harus memberikan manfaat bagi audiens saya... sehingga saya bisa meng-grab audiens saya... dan akhirnya setahun kemudian saya mulai berkiprah... di dunia public seminar. Welcome the jungle!!! di sini kalau pengajar jelek langsung dikomplain dan akhirnya tidak dipakai lagi oleh institusi... saya bersyukur walau saya pengajar satu-satunya yang paling cantik he...he... pede sekali ya... karena saat itu yang lainnya pria... dan sistem pengajarannya semi-militer sehingga perlu power suara dan fisik yang kuat, saya bisa diterima dengan baik oleh para klien saya.

Dalam kehidupan profesional, sebagai manager yang punya anak buah - saya pun selalu berbagi energi positif sehingga saya bukan seorang manager/pimpinan yang ditakuti... tetapi disegani... bahkan beberapa bulan lalu mantan anak buah saya telpon sambil menangis "Bu, saya mau ikut Ibu lagi ... Bu, pimpinan saya yang sekarang kalau marah kasar sekali dan bisa banting-banting barang..." Berbagi energi positif, memotivasi, menegur untuk memperbaiki bukan untuk menyakiti, menginspirasi orang untuk bisa lebih baik lagi... itulah yang saya lakukan... Jadi NLP apa bukan? apakah saya layak memberikan NLP... ? Saya tidak terlalu memasalahkan itu karena bagi saya yang terpenting adalah selalu memberi manfaat... walk the talk... dan jangan pernah membanggakan diri sendiri atau ilmu apa pun mengalahkan kebanggaan kita pada Sang Pencipta Ilmu itu sendiri. Lakukan apa yang Anda katakan pada orang lain... bukan cuma lip service or omdo alias omong doang... maka inner-power Anda akan memancar dalam bentuk aura yang positif.

Salam PRIMA

Liliana Wahyudi - Entrepreuneur & Menyalurkan hobi berbagi dengan menjadi Pengajar Public Speaking di Tantowi Yahya Public Speaking School dan Pengajar Soft Skills Multi Training Centre

Selasa, 02 Juni 2009

Percaya Diri

TIPS UNTUK MENJADI PERCAYA DIRI DENGAN PRIMA

Setiap kita tentu ingin tampil menjadi sosok yang percaya diri. Namun ternyata banyak sekali dijumpai orang yang merasa kurang percaya diri. Apakah sebabnya? Ada sebagian orang yang mengatakan aspek fisik seperti hidung yang kurang mancunglah, mata kurang besar, kegemukan, terlalu kurus, dan sebagainya. Banyak hal yang bisa dijadikan alasan untuk menjadi tidak percaya diri dan jika saat ini Anda mau mengubah mindset Anda seharusnya banyak juga alasan untuk kita bisa menjadi percaya diri bukan?

Tetapi problemnya adalah sering kali orang merasa nyaman dengan rasa rendah dirinya, Anda tahu mengapa? Dengan menjadi orang yang rendah diri dunia persaingan Anda menjadi hampir boleh dipastikan tidak ada, sehingga dengan demikian Anda tidak punya saingan dan karenanya Anda menjadi nyaman. Coba bandingkan dengan orang yang percaya diri dan menonjol… ada pepatah semakin tinggi bangunan semakin besar angin yang melandanya. Sehingga orang yang percaya diri sering kali memiliki banyak saingan, dan beberapa saingan itu mungkin menyimpan rasa iri dan permusuhan, jadi jelas kalau mencari hidup nyaman jauh lebih nyaman menjadi orang yang minder karena anginnya sepoi-sepoi yang membuat kita terlena.

Namun untuk pertumbuhan ke arah yang optimal, jelas Anda akan terhambat jika menjadi orang yang minder karena ibarat kupu-kupu kita selalu berada dalam kepompong sehingga dunia Anda menjadi seukuran kepompong Anda padahal kita tahu dunia demikian luas. Untuk menjadi kokoh ada kalanya kita harus mengalami badai dan cobaan sehingga kita menjadi lebih kuat, percaya diri, dan memiliki mental yang tangguh. Berikut ada beberapa tips untuk Anda menjadi percaya diri yaitu PRIMA.

Peduli, Peduli dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai mengindahkan; memperhatikan; menghiraukan: jadi wujudkan kepedulian Anda, berikan perhatian Anda pada lingkungan sekeliling Anda. Akan jauh lebih baik jika Anda wujudkan kepedulian Anda pada orang-orang yang kurang mampu, kurang beruntung dibandingkan Anda sehingga Anda bisa melihat bahwa tidak seharusnya Anda merasa minder karena masih banyak orang di sekitar Anda yang tidak seberuntung Anda. Syukuri itu. Peduli juga terhadap diri Anda, yakinkan diri Anda bahwa Anda layak berbahagia, layak diperhitungkan, dan berkontribusilah. Dengan Anda berkontribusi pada lingkungan sekitar, Anda sedang berinvestasi untuk diri Anda dan rasa percaya diri Anda akan terus berkembang karena Anda pupuk dengan sikap peduli Anda.

Ramah, Tunjukkan sikap positif dengan selalu bersikap ramah. Berikan senyum terbaik Anda, energi positif Anda dengan menyapa orang dengan hangat, memberikan senyum terbaik yang tulus dari hati akan membuat Anda menjadi terlihat menarik dan lambat laun akan membuat Anda menjadi lebih percaya diri. Bila Anda bekerja sebagai frontliner, sikap ramah menjadi sangat penting Anda tunjukkan dan menjadi salah satu core competency yang harus Anda tunjukkan untuk image perusahaan dan untuk menunjukkan bahwa Anda siap membantu. Sikap percaya diri bisa timbul dengan kita tidak hanya fokus pada diri sendiri dengan segala kekurangannya, ketika kita merasa bahwa diri kita berarti bagi orang lain, bisa membantu orang lain, rasa percaya diri Anda akan terus meningkat.

Inisiatif, tunjukkan inisiatif Anda untuk membantu orang lain, inisiatif untuk membuka hubungan dengan orang-orang baru yang positif dan menyenangkan akan membuat Anda umenjadi lebih percaya diri. Ingat rasa percaya diri tidak bisa diciptakan secara instant melainkan harus dipupuk terus-menerus. Tunjukkan pula inisiatif pada diri Anda sendiri untuk melakukan otosugesti. Katakan “Saya menarik…saya percaya diri…dsb,” perkatakan hal-hal positif maka Anda akan menjadi lebih baik.

Menarik, berusahalah untuk tampil menarik. Dengan memilih busana terbaik akan membuat Anda menjaga penampilan Anda agar terlihat matching dan menarik. Tunjukkan sikap tubuh tegak saat berdiri demikian pula pada saat duduk, duduklah tegak namun tidak tegang… sehingga Anda akan tampil jauh menarik. Dengan menjaga sikap tubuh yang benar akan menopang citra dan rasa percaya diri yang ingin Anda tumbuhkan.

Antusias, orang yang minder sangat jarang menunjukkan antusiasme. Padahal sikap antusiasme itu penting untuk bisa menjadikan diri kita magnet/besi berani. Tanpa antusias, Anda hanya menjadi besi biasa yang tidak punya daya tarik. Jadi kalau Anda ingin tampil lebih percaya diri mulailah menunjukkan antusiasme Anda. Mulai tunjukkan antusiasme pada bidang yang menjadi kelebihan Anda atau bidang yang Anda minati, bila sudah lanjutkan ke bidang-bidang yang baru sehingga membuat Anda lebih percaya diri lagi. Jangan pernah takut gagal atau takut ditertawakan orang, diolok-olok. Berjalanlah sesuai dengan keyakinan Anda. Do your best. Banyak orang minder yang tidak pernah mau menunjukkan antusiasme-nya termasuk pada bidang yang menjadi kelebihannya, itu membuat hidupnya terasa membosankan. Jangan pernah takut untuk menunjukkan antusiasme Anda, tidak ada langkah besar yang dimulai tanpa langkah kecil jadi melangkahlah dengan penuh semangat. Yakinkan diri Anda bahwa Anda punya sesuatu yang bisa Anda kontribusikan bagi keluarga, komunitas Anda, pekerjaan Anda, dan apa pun di sekitar Anda.

Mulai terapkan PRIMA itu dalam kehidupan Anda secara terus-menerus, maka niscaya Anda sudah memulai langkah progresif itu mulai dari sekarang. Selamat mempraktekkan dan tampillah PRIMA. You’re the best.

Salam Prima,

LILIANA

Tulisan ini sudah dimuat di harian Suara Pembaruan Minggu, 24 Mei 2009 sebagai sinergi dengan Ibu E. NINA

LILIANA WAHYUDI

LILIANA  WAHYUDI
Trainer, Public Speaker & Motivator

BREAK YOUR LIMIT!

Lepaskan segala keraguan Anda...
Hadapi tantangan dengan berani
untuk menghalau keterbatasan
menghalau status quo

Hidup akan jauh lebih baik dan bermakna
ketika Anda berani mengalahkan musuh terbesar yaitu...
diri kita sendiri.