NEGOSIASI YANG EFEKTIF DI DUNIA KERJA
Dalam kehidupan, negosiasi menjadi sesuatu yang sebetulnya biasa dilakukan. Mulai ketika Anda bangun pagi ketika Anda dihadapkan pada pilihan mandi dulu atau baca koran dulu, ketika Anda sudah memilih untuk mandi dulu ternyata pada waktu yang hampir bersamaan salah satu orang di rumah Anda atau di tempat kos Anda juga akan memakai kamar mandi sehingga terjadi negosiasi pula tentang siapa yang akan duluan menggunakan kamar mandi. Dalam konteks kerja, negosiasi bisa mencakup bagaimana mendapatkan harga terbaik dari procurement, bagaimana mencapai kata sepakat dengan atasan Anda mengenai berbagai masalah dan prioritas kerja yang saling bertentangan, bahkan termasuk bagaimana Anda bisa menegosiasikan dengan atasan Anda tentang dateline suatu pekerjaan.
Seorang teman kuliah saya di pasca sarjana yang kebetulan bekerja di suatu bank plat merah sangat sering terlambat dan absen. Padahal kantor tempatnya bekerja persis di seberang kampus kami. Dia beberapa kali diultimatum dosen karena terlalu seringnya terlambat bahkan kehadirannya yang kurang dari standar yang ditetapkan untuk bisa mengikuti ujian. Ternyata teman saya ini mempunyai problem bahwa atasannya sering memberikan tugas menjelang pulang kantor yang mau tidak mau harus dikerjakannya sehingga hal lain termasuk masuk kuliah menjadi korban. Saya teringat ketika semasa saya bekerja sebagai staf HRD di salah satu bank swasta, saya mempunyai atasan yang acap kali memberikan tugas di sore hari menjelang berakhirnya jam kerja. Hal ini dikarenakan yang bersangkutan termasuk work-aholic yang bisa betah di kantor sampai jam 9 malam, sehingga sopir GM saya ini memecahkan rekor untuk lembur terbanyak setiap bulannya dibandingkan karyawan lainnya. Setelah saya mempelajari kebiasaan atasan ini, akhirnya saya merasa perlu menegosiasikan tentang tugas yang diberikannya tersebut dan datelinenya. Bahkan saking proaktifnya saya setelah tahu habit dari atasan saya tersebut, biasanya sekitar pukul setengah empat saya datang ke atasan saya untuk menyampaikan progress report tugas saya sambil saya tanyakan adakah tugas yang harus dikerjakan hari itu juga. Mengapa saya lakukan itu ya… supaya saya bisa pulang cepat karena saya ada kesibukan lain di luar jam kerja saya. Dan saya bersyukur pada akhirnya atasan saya memahami dan jarang memberikan tugas dadakan menjelang jam kerja berakhir sehingga saya bisa balancing hidup saya bukan untuk kerja saja tetapi juga bisa untuk ke gym, kursus bahasa Inggris, atau kegiatan lainnya. Namun sering kali banyak orang merasa sulit untuk menegosiasi hal seperti itu karena berbagai alasan di antaranya adalah :
· “Rasanya sulit bagi saya untuk bisa menegosiasikan tugas kerjaan dengan atasan saya,”
· “Atasan saya hanya memikirkan keinginan dan kehendaknya sendiri – sehingga saya sebagai bawahan harus berkorban. – saya gak yakin atasan saya bisa mengerti tentang kuliah saya karena dia Cuma S-1,”
· dan berbagai alasan lainnya yang sering kali hanya asumsi yang belum tentu kebenarannya.
Berikut ini saya akan menyampaikan beberapa tips untuk memudahkan Anda bernegosiasi.
1. Jangan menegosiasikan sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan. Artinya bila itu berhubungan dengan peraturan perusahaan, Standar SOP, maka itu sudah tidak perlu ditawar atau dinegosiasikan lagi. Tetapi tentang dateline pekerjaan seperti teman saya ini sebenarnya masih bisa dinegosiasikan karena kalau pun tidak dikerjakan sore itu juga tidak akan mengganggu operasional kerja jadi masih memungkinkan untuk dibicarakan sehingga dia bisa tetap kuliah dengan lancar. Teman saya ini sudah memasuki semester keenam (padahal kuliah pasca sarjana hanya 4 semester saja –pen) hanya karena dia tidak diizinkan ujian akibat sering bolosnya sehingga tidak memenuhi kuota kehadiran yang telah ditetapkan pihak kampus. Teman saya sebenarnya bisa melakukan negosiasi juga dengan dosen supaya diperkenankan untuk mendapat tugas mandiri sebagai kompensasi ketidakhadirannya (yang kurang dari 75% SOP Kampus) sehingga dia bisa layak mengikuti ujian dan kuliahnya cepat selesai sehingga bisa fokus pada pekerjaannya secara penuh.
2. Bersikaplah asertif – sering kali orang menghindari bernegosiasi karena ketidakmampuannya bersikap asertif. Bersikap asertif berarti Anda memiliki kepercayaan diri dan keberanian untuk menyuarakan kepentingan Anda tanpa merugikan kepentingan orang lain. Kebanyakan bawahan tidak mampu bersikap asertif sehingga menjadi pasif dan submisif ini terbukti dengan idiom “ABS = Asal Bapak Senang” atau “AIS” = Asal Ibu Senang (sekarang yang jadi atasan kan tidak selalu pria tokh). Kebalikan dari pasif dan submisif adalah agresif yang akhirnya bisa membahayakan hubungan kerja karena merasa ada pihak yang dirugikan. Jadi dalam konteks negosiasi yang berhasil adalah bila Anda bisa tahu kepentingan para pihak dan bisa bertukar konsesi untuk menemukan BATNA (Best Alternative To a Negotiated Agreement). Saya sudah melakukannya dan berhasil, ketika kita bersikap asertif, atasan saya menyadari bahwa sebagai individu saya juga punya hak dan kepentingan di luar jam kerja sehingga tidak selayaknya dia mengganggu jatah jam kehidupan saya setelah 8 jam kerja di kantor – namun dalam hal ini saya pun sesekali siap lembur bila memang ada tugas penting yang harus dikerjakan dan itu sesuai kesepakatan bersama. Misalnya setiap seminggu sekali saya harus siap lembur menemani atasan saya berdiskusi dan melakukan evaluasi dengan para Management Trainee (MT) selepas jam kantor.
3. Pisahkan orang dari masalahnya. Belajarlah memisahkan pribadi mitra negosiasi Anda dari topik permasalahan yang sedang dinegosiasikan supaya Anda bisa menentukan BATNA Anda. Katakanlah Anda harus melakukan negosiasi pembelian suatu alat yang kebetulan salesnya adalah teman dekat atau kerabat Anda sendiri. Pisahkan perasaan pribadi sebagai kerabat atau teman tersebut supaya Anda bisa menentukan BATNA Anda secara leluasa untuk keberhasilan negosiasi Anda yang akan menjadi prestasi Anda pula akhirnya bila Anda dapat memperoleh harga terbaik yang pernah ada dengan kualitas terbaik pula.
4. Kenali mitra negosiasi Anda, semakin baik Anda mengenal mitra negosiasi Anda akan semakin kuat posisi Anda dan BATNA Anda akan semakin baik. Bila Anda bertemu dengan mitra yang visual – berusahalah untuk menjadi lebih visual dengan menunjukkan antusiasme ketika berbicara, penampilan yang rapi, alat bantu visual, sementara bila Anda bertemu dengan orang yang auditory, aturlah intonasi bicara Anda agar lebih berirama dan pas didengarnya, jelaskan detil penawaran Anda, dan dengarkan apa yang disampaikan dengan seksama. Sebaliknya bila Anda bertemu dengan orang yang cenderung kinestetis, jangan terburu-buru ketika Anda menyampaikan penawaran Anda, lebih sabarlah mendengarkan karena mitra Anda yang cenderung ‘perasa’ ini harus lebih diperlakukan penuh perasaan. Ketika Anda cenderung memaksa justru orang tipe ini akan merasa tidak nyaman dan itu bisa membuat kesepakatan tidak terjadi.
5. Kendalikan emosi Anda supaya negosiasi berlangsung efektif. Jika pada waktu yang telah ditetapkan ternyata kesibukan Anda sangat luar biasa, meeting mendadak, atau ada masalah genting maka kabari mitra negosiasi Anda, sampaikan maaf karena harus menjadwal ulang pertemuan daripada Anda memaksakan tetap bertemu sementara suasana hati dan emosi Anda sedang panik, labil, atau bahkan sedang marah. Bila mitra negosiasi Anda sedang marah dengan berteriak atau bahkan menggebrak meja, biarkan sampai tenang kembali, tetaplah tenang, dan itu bisa membuat posisi Anda menjadi lebih baik. Jika emosi Anda dan mitra Anda meninggi jangan paksakan tercapai satu kesepakatan saat itu juga, lebih baik tunda sampai pertemuan berikutnya. Akan jauh lebih baik pertemuan selanjutnya dilakukan saat pagi hari sehingga lebih tenang dan nyaman.
6. Ciptakan situasi menang-menang. Sekalipun tidak selalu memungkinkan, Anda harus mengupayakannya. Karena dengan keadaan seimbang akan membuat hubungan jangka panjang terjaga. Sebuah ilustrasi tentang kakak beradik yang memperebutkan jeruk madiun menjadi tepat dalam konteks ini. Sering kali ketika kita melihat perseteruan seperti ini kita menganggap yang adil adalah membagi dua buah jeruk itu dan masalah selesai, ternyata sang kakak membutuhkan buah jeruk itu untuk dibuat asinan sedangkan adiknya membutuhkan kulit jeruk itu untuk dibuat mobil-mobilan. Jadi kenali kepentingan dan kebutuhannya, itulah win-win solution. Dengan bertanya apa yang menjadi kebutuhannya maka si kakak puas mendapat buah jeruk yang banyak untuk asinan yang segar dan si adik mendapatkan kulit buah yang lengkap untuk dia bisa membuat mobil-mobilan secara lengkap.
7. Negosiasi akan berlangsung efektif jika Anda terampil mendengarkan. Kemampuan mendengarkan berbeda dengan mendengar. Mendengarkan membutuhkan perhatian penuh, hati dan pikiran Anda tercurah pada pembicaraan mitra negosiasi Anda, telinga dan mata Anda pun fokus sehingga Anda bisa memahami sudut pembicaraan mitra negosiasi Anda dan dengan demikian membuat Anda bisa menentukan posisi terbaik untuk win-win solution.
Demikian tips untuk melakukan negosiasi yang efektif di dunia kerja, selamat mempraktekkan.
LILIANA W. WAHYUDI
